CARA:
1.klik entri baru
2.kemudian klik rancangan
3.kemudian klik elemen halaman
4.trus tambah gadged
5.terus java/html
6.terus msukne kodene
7.kodene berada di alamat di bawah ini:
http://www.swfcabin.com/search.php.
Klo gak jelas tanya aja ya;;
Ok...
Minggu, 05 Desember 2010
Perjuangan Budi
Pada suatu hari hiduplah sebuah keluarga yang sederhana dan bahagia. Budi, pak Roni dan bu Ratih, mereka berdua adalah orang tua dari Budi. Dengan hidup tanpa kemewahan atau bisa dibilang sangat sederhana’ walaupun begitu keluarga tetap menjadi keluarga yang berbahagia. Jelas, Budi adalah anak tunggal. Namun budi bukanlah anak tunggal yang bermalas-malasan saja, melainkan ia adalah anak yang sangat rajin, dan juga pintar. Pada suatu hari ibu Budi sakit keras, Dokter mengvonis ibu ibu budi mengidap kanker usus stadium akhir, dengan memiliki kesempatan sangat kecil untuk hidup, ternyata benar keesokan harinya ibu budi meninggal dunia. Budi sangat bersedih atas kematian ibunya, namun ia tetap mencoba bersabar. Sejak saat itu Budi menjadi anak piyatu dan sejak itu pula Budi tinggal hanya bersama ayahnya. Ayah Budi bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.
Budi adalah siswa kelas VII di SMP Harapan Jaya. Di sekolah Budi dikenal sebagai anak yang rajin dan pintar, walaupun ia adalah siswa yang pintar, tak sedikitpun membuatnya sombong, justru ia tetap rendah hati, dan suka membantu teman, Budi selalu menduduki peringkat pertama’ ia juga pernah menjadi juara tingkat nasional dalam lomba matematika. Sebagai siswa ia selalu dating tepat waktu, dan selalu mengikuti proses belajar-mengajar dengan baik.
Sampai suatu ketika, saat ayah Budi pulang dari kerja dengan mengendarai sepeda motor. Tiba – tiba ada sebuah truk melaju dengan kencang. Mungkin karena sopir truk mengantuk, Dan tiba – tiba terdengar suara yang keras “BRUUUK” dan kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan. Akibatnya ayah Budi meninggal dunia mengalami pendarahan yang amat besar di bagian kepalanya, sebelum mencapai rumah sakit terdekat nyawa ayah Budi tidak dapat tertolong lagi, dan akhirnya ayah meninggal dunia. Sungguh malang nasib Budi setelah ibunya meninggal, ayahnya pun juga meninggal dunia. Budi memang bersedih, namun ia tetap mencoba untuk tetap menerima keputusan dari ALLAH S.W.T., Karena memang semua pasti akan kembali.
Sejak ayah Budi meninggal, Budi harus tinggal bersama bibinya yang bernama Rani. Bi Rani adalah adik dari ayah Budi, Bi Rani memiliki sifat yang sangat buruk, ia selalu memarahi dan terus-menerus menyuruh budi bekerja tanpa henti, bahkan ia sempat berkata bahwa ”kamu harus berhenti sekolah dan kamu harus menjadi pengamen jalanan’.
Bi Rani : “Budi, Budi, Budi! Cepat kemari!”
Budi : “iya, Bi!”
Bi Rani : “Jadi anak jangan malas – malasan aja dong! Ayo cepat bersihkan rumah ini!” (dengan nada yang kencang)
Budi :”Tapi bi.. saya mau sholat dulu..!!’
Bi Rani :”Alah alasan aja kamu, cepat bersihkan!!”
Budi :”Ia bi, saya akan lakukan.”
Bi Rani :”Gitu dong!! Gak pakek lama.”
Bi Rani sangat gila uang, ia selalu menyuruh budi untuk berhenti sekolah dan ia
menyuruh Budi untuk menjadi pengamen.
Bi Rani : “Kamu harus mengamen di jalanan dan kamu harus berhenti dari sekolahmu.”
Budi : “Iya bi.”(tapi dalam hatinya Budi berkata, “Saya harus tetap melanjutkan sekolah”)
Bi Rani : “O ya, jangan lupa hasil dari mengamen harus kamu berikan ke gue!”
Budi :”ia bi..”
Bi Rani :”Jangan sampek, di korupsi.”
Budi :”ia bi, semua hasil mengmen akan saya berikan ke bibi.”
Bi Rani :”ya bagus-bagus.”
Dan dengan cara sembunyi – sembunyi setiap pagi Budi selalu berangkat sekolah. Dan setelah pulang sekolah iya langsung berganti baju dan langsung berangkat mengamen di jalanan. Sambil membawa sebuah gitar kecil Budi mengadahkan tangannya kepada orang – orang yang berhenti di lampu merah. Dari mobil satu ke mobil lainnya, dari satu motor ke motor lainnya. Mungkin karena kasihan, setiap orang selalu memberinya.
Setelah merasa cukup akhirnya budi kembali ke rumah. Setelah sampai di rumah, bbibinya telah menunggu di depan pintu.
Bi Rani : “Mana, hasil mengamenmu hari ini?”
Budi : “Ini Bi!”
Bi Rani : “Kok Cuma dapat segini, buat apa saja duitnya?”
Budi : “Memang dapatnya segitu Bi, saya tidak mengambilnya sedikit pun!”
Bi Rani : “Atau jangan – jangan uangnya kamu buat sekolah, sehingga waktu ngamenmu sedikit!”
Budi : “Enggak Bi, aku sudah tidak sekolah lagi kok Bi!”
Bi Rani : “Gue gak mau tahu, pokonya awas kalau kamu sampai bohong!”
Budi : “Iya Bi!”
Bi Rani : “Ya sudahlah, cepat makan sana! Daripada sakit nanti juga pasti gue yang repot.”
Budi :”Baik bi”
Budi memang berangkat sekolah, sebelum mengamen, Budi tidak ingin berhenti sekolah hanya karena bibinya. Budi tetap ingin mencapai cita-citanya, dan dapat menjadi orang yang sukses. Setelah selesai makan, Budi langsung pergi ke kamarnya untuk belajar dan segera tidur agar iya tidak mengantuk saat di sekolah.
Dan pada akhirnya karena kerajinan dan sifat pantang menyerah Budi, sepuluh tahun kemudian iya dapat memetik hasilnya. Iya menjadi seorang pengusaha yang amat sukses dan dapat merubah nasibnya dari miskin menjadi seorang konglomerat.
“HIDUP DENGAN KEYAKINAN PADA ALLAH’
CREAT:
alfin nur akbar
Budi adalah siswa kelas VII di SMP Harapan Jaya. Di sekolah Budi dikenal sebagai anak yang rajin dan pintar, walaupun ia adalah siswa yang pintar, tak sedikitpun membuatnya sombong, justru ia tetap rendah hati, dan suka membantu teman, Budi selalu menduduki peringkat pertama’ ia juga pernah menjadi juara tingkat nasional dalam lomba matematika. Sebagai siswa ia selalu dating tepat waktu, dan selalu mengikuti proses belajar-mengajar dengan baik.
Sampai suatu ketika, saat ayah Budi pulang dari kerja dengan mengendarai sepeda motor. Tiba – tiba ada sebuah truk melaju dengan kencang. Mungkin karena sopir truk mengantuk, Dan tiba – tiba terdengar suara yang keras “BRUUUK” dan kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan. Akibatnya ayah Budi meninggal dunia mengalami pendarahan yang amat besar di bagian kepalanya, sebelum mencapai rumah sakit terdekat nyawa ayah Budi tidak dapat tertolong lagi, dan akhirnya ayah meninggal dunia. Sungguh malang nasib Budi setelah ibunya meninggal, ayahnya pun juga meninggal dunia. Budi memang bersedih, namun ia tetap mencoba untuk tetap menerima keputusan dari ALLAH S.W.T., Karena memang semua pasti akan kembali.
Sejak ayah Budi meninggal, Budi harus tinggal bersama bibinya yang bernama Rani. Bi Rani adalah adik dari ayah Budi, Bi Rani memiliki sifat yang sangat buruk, ia selalu memarahi dan terus-menerus menyuruh budi bekerja tanpa henti, bahkan ia sempat berkata bahwa ”kamu harus berhenti sekolah dan kamu harus menjadi pengamen jalanan’.
Bi Rani : “Budi, Budi, Budi! Cepat kemari!”
Budi : “iya, Bi!”
Bi Rani : “Jadi anak jangan malas – malasan aja dong! Ayo cepat bersihkan rumah ini!” (dengan nada yang kencang)
Budi :”Tapi bi.. saya mau sholat dulu..!!’
Bi Rani :”Alah alasan aja kamu, cepat bersihkan!!”
Budi :”Ia bi, saya akan lakukan.”
Bi Rani :”Gitu dong!! Gak pakek lama.”
Bi Rani sangat gila uang, ia selalu menyuruh budi untuk berhenti sekolah dan ia
menyuruh Budi untuk menjadi pengamen.
Bi Rani : “Kamu harus mengamen di jalanan dan kamu harus berhenti dari sekolahmu.”
Budi : “Iya bi.”(tapi dalam hatinya Budi berkata, “Saya harus tetap melanjutkan sekolah”)
Bi Rani : “O ya, jangan lupa hasil dari mengamen harus kamu berikan ke gue!”
Budi :”ia bi..”
Bi Rani :”Jangan sampek, di korupsi.”
Budi :”ia bi, semua hasil mengmen akan saya berikan ke bibi.”
Bi Rani :”ya bagus-bagus.”
Dan dengan cara sembunyi – sembunyi setiap pagi Budi selalu berangkat sekolah. Dan setelah pulang sekolah iya langsung berganti baju dan langsung berangkat mengamen di jalanan. Sambil membawa sebuah gitar kecil Budi mengadahkan tangannya kepada orang – orang yang berhenti di lampu merah. Dari mobil satu ke mobil lainnya, dari satu motor ke motor lainnya. Mungkin karena kasihan, setiap orang selalu memberinya.
Setelah merasa cukup akhirnya budi kembali ke rumah. Setelah sampai di rumah, bbibinya telah menunggu di depan pintu.
Bi Rani : “Mana, hasil mengamenmu hari ini?”
Budi : “Ini Bi!”
Bi Rani : “Kok Cuma dapat segini, buat apa saja duitnya?”
Budi : “Memang dapatnya segitu Bi, saya tidak mengambilnya sedikit pun!”
Bi Rani : “Atau jangan – jangan uangnya kamu buat sekolah, sehingga waktu ngamenmu sedikit!”
Budi : “Enggak Bi, aku sudah tidak sekolah lagi kok Bi!”
Bi Rani : “Gue gak mau tahu, pokonya awas kalau kamu sampai bohong!”
Budi : “Iya Bi!”
Bi Rani : “Ya sudahlah, cepat makan sana! Daripada sakit nanti juga pasti gue yang repot.”
Budi :”Baik bi”
Budi memang berangkat sekolah, sebelum mengamen, Budi tidak ingin berhenti sekolah hanya karena bibinya. Budi tetap ingin mencapai cita-citanya, dan dapat menjadi orang yang sukses. Setelah selesai makan, Budi langsung pergi ke kamarnya untuk belajar dan segera tidur agar iya tidak mengantuk saat di sekolah.
Dan pada akhirnya karena kerajinan dan sifat pantang menyerah Budi, sepuluh tahun kemudian iya dapat memetik hasilnya. Iya menjadi seorang pengusaha yang amat sukses dan dapat merubah nasibnya dari miskin menjadi seorang konglomerat.
“HIDUP DENGAN KEYAKINAN PADA ALLAH’
CREAT:
alfin nur akbar
Langganan:
Komentar (Atom)





